Thursday, November 3, 2011

Ambigu dalam hubungan antar manusia di masyarakat Jepang

Huummm judulnya sih sepertinya ini adalah posting yang serius dengan berbagai jargon-jargon memusingkan, tapi bukan seperti adanya... posting ini adalah semacam 'metode curiga' yang diajarkan oleh Dr. Manneke Budiaman dalam kuliah teori kritis.....

Nonton anime tentang hubungan kakak - adik yang dibumbui dengan perasaan suka.... incest?? apakah di Jepang hal ini juga termasuk dalam 'shumi'nya mereka?? khususnya para lolikon otaku????

menurut teman saya.... ini cuma ada di dalam anime saja tapi tidak tertutup kemungkinan jika hal ini memang terjadi di kehidupan nyata??

aneh memang tapi memang itulah kenyataannya....

jika bukan orang jepang mungkin tidak bisa diterima dengan akal sehat, bagaimana saudara kandung bisa memiliki perasaan suka????? atau mungkin bukan suka secara emosi mendalam tapi suka yang lebih cenderung seksual.... hmm malah lebih tidak masuk akal lagi.....

'lolikon' tidak hanya terjadi di Jepang saja, tapi istilah lolikon lah yg khusus di Jepang jika di luar jepang lebih dikenal dengan istilah pedophilia.....

lolikon biasanya untuk laki-laki dewasa yang menyukai anak kecil perempuan, dan bukan Jepang jika tidak ada istilah untuk "orang dewasa" (saya menggunakan orang dewasa disini karena berlaku untuk laki-laki dan perempuan) yang menyukai anak laki-laki, istilahnya adalah shota....

semakin terheran-heran saja kan tapi itulah adanya... memang benar adanya jika kita melihat produk-produk budaya populer Jepang sangat sarat dengan unsur-unsur seksual dan 'kekerasan' tapi saya ingin mencoba untuk mengupas produk budaya populer Jepang bukan dari segi seksual dan kekerasannya saja. menurut saya masih banyak hal-hal yang dapat diambil dari produk-produk budaya populer jepang tampa kita mengedepankan kedua unsur tadi...

hmmm abis nonton satu episode lagi ternyata anime Ore no Imoto ga konna kawaii wake ga nai..... bukan tentang incest tapi tentang hubungan kakak laki-laki dengan adik perempuannya.... dimana pada awalnya mereka seperti kucing dan anjing yang selalu bertengkar satu sama lainnya, tapi setelah kakaknya mengetahui hobi adiknya yang otaku khususnya otaku 'erogemu' hubungan mereka semakin dekat dan lebih mengenal sifat dan karakter masing-masing...

jujur saja, apa kita mengenal saudara kandung kita sendiri? apa hobinya? apa yang mereka sukai? apa yang mereka benci? apa yang ada di dalam hati mereka? mungkin ada beberapa orang bisa menjawab tahu tapi sampai seberapa tahukah???

dalam anime ini kental sekali mangakanya atau animator ingin menekankan bagaimana hubungan saudara kandung itu, bagaimana seorang kakak laki-laki harus selalu siap sedia membantu adik perempuan meskipun dirinya sendiri kena sial, bagaimana kurang ajarnya atau judesnya seorang adik perempuan, sebagai kakak lai-lakinya harus selalu siap sedia membantu.... akhir yang indah memang

disinilah keunggulan dari anime-anime Jepang selalu dapat memotret satu babak dalam kehidupan khususnya kehidupan remaja dimana gejolak-gejolak dan hormon-hormon mereka masih meledak-meledak...dengan menggunakan anime ini seolah-seolah menyentil perasaan dan rasa persaudaraan dan saya rasa bukan hanya untuk para remaja di jepang saja tapi ini juga bisa berlaku bagi remaja di seluruh dunia.....

Thursday, October 27, 2011

Apa sih COSPLAY ITU?

Akhir-akhir ini muncul fenomena yang banyak digandrungi oleh anak-anak muda, terutama mereka yang menyukai produk-produk budaya dari negeri matahari terbit, dan ternyata tidak hanya di Indonesia tetapi fenomena ini juga sudah merebak ke seluruh penjuru dunia. Fenomena apa itu? Fenomena yang dimaksud adalah Cosplay.

Mungkin di antara kita, ada yang sudah pernah ber-cosplay, atau bahkan mungkin ada yang menyukainya sehingga setiap ada acara dimana bisa ber-cosplay, selalu hadir di sana untuk ber-cosplay. Tapi apakah kita pernah berpikir sejenak apa sih Cosplay itu?

Kalau kita rajin mencari-cari di Internet, maka arti kata cosplay ini dapat kita temukan di situs-situs ensiklopedia, seperti misalkan di Wikipedia. Kalau melihat dari Wikipedia maka akan kita temukan :

Wikipedia versi bahasa Indonesia :

Cosplay (コスプレ, Kosupure) adalah istilah bahasa Inggris buatan Jepang (wasei-eigo) yang berasal dari gabungan kata "costume" (kostum) dan "play" (bermain). Cosplay berarti hobi mengenakan pakaian beserta aksesori dan rias wajah seperti yang dikenakan tokoh-tokoh dalam anime, manga, manhwa, dongeng, permainan video, penyanyi dan musisi idola, dan film kartun.[1]

Wikipedia versi bahasa Inggris :

Cosplay (コスプレ, kosupure), short for "costume play", is a type of performance art in which participants don costumes and accessories to represent a specific character or idea.[2]

Artinya :

Cosplay, singkatan dari “costume play”, adalah suatu bentuk pertunjukan seni dimana para pesertanya mengenakan kostum dan aksesoris untuk merepresentasikan karakter atau ide tertentu.

Wikipedia versi bahasa Jepang :

コスプレとはコスチューム・プレイを語源とする和製英語で、アニメやゲームなどの登場人物のキャラクターに扮する行為を指す[3]

Artinya :

Cosplay (Kosupure) adalah istilah bahasa Inggris buatan Jepang yang berasal dari kata Costume Play, dimana kata ini mengacu kepada perbuatan memainkan peran atau karakter yang muncul di dalam anime ataupun game.

Kalau mengacu kepada situs yang memberikan penjelasan mengenai istilah-istilah yang sering keluar dalam budaya populer Jepang saat ini, yakni situs Doujin Yougo no Kiso Chishiki 同人用語の基礎知識 di www.paradisearmy.com, dijelaskan bahwa :

「コスプレ」 とは 「コスチュームプレイ」 の略で、マンガ アニメゲーム などの キャラ が身につけているのと同じような衣服を制作・着用して、そのキャラになりきる行為のことです[4]

Artinya :

Cosplay adalah singkatan dari Costume Play, dan merujuk kepada perbuatan berusaha menjadi tokoh atau karakter yang ada di dalam manga, anime, dan game dengan membuat dan memakai kostum yang sama dengan yang digunakan oleh karakter tersebut.

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat kita lihat kesamaan pendapat mengenai cosplay, yaitu semua pengacu kepada kegiatan atau aktifitas yang berhubungan dengan mengenakan kostum dan mencoba menjadi serupa dengan tokoh atau karakter yang disukainya baik, itu karakter anime, manga atau game.

Sebelum melanjutkan mari kita coba melihat pendapat yang dikemukan di dalam sebuah buku yang berjudul Cosplay Naze Nihonjin wa Seifuku ga suki na no ka, karya Fukiko Mitamura. Di dalam buku tersebut, Fukiko Mitamura menyebutkan pengertian Cosplay sebagai berikut :

簡単に「ある役割」になりきることができる。求められる役柄、なりたい自分に早代わりできる。それはコスプレである。 [5]

Artinya :

Dapat dengan mudah menjadi suatu peran/tokoh. Dapat dengan cepat menjadi apa yang diinginkan oleh dirinya, atau menjadi peran yang dibutuhkan. Inilah yang disebut cosplay.

Jadi kalau menurut Mitamura, cosplay adalah merubah diri menjadi peran yang dibutuhkan atau status yang diinginkan, terlepas dari apakah orang tersebut memang berprofesi sebagai peran yang sedang diembannya tersebut atau tidak, memiliki kemampuan yang dituntut harus dimiliki oleh peran yang diembannya tersebut atau tidak. Dengan kata lain, seseorang dapat menjadi bagian dari suatu profesi atau peran hanya dengan mengenakan kostum yang menandai peran tersebut, sehingga dia akan merasa menjadi seperti orang yang diperankannya sehingga mau tidak mau orang tersebut akan merasa berkewajiban untuk memiliki kemampuan sesuai dengan yang dituntut oleh profesi atau peran yang ia emban seiring dengan kostum yang ia kenakan.

Pengertian cosplay yang diberikan oleh Mitamura ini, dikarenakan kekhawatirannya akan fenomena orang Jepang yang seringkali tidak mempersiapkan seseorang untuk memiliki suatu status dengan kemampuan yang diperlukan untuk status tersebut. Seakan-akan orang yang mengenakan atribut-atribut suatu status hanyalah sedang berpura-pura atau bermain-main dengan status yang disandangnya tersebut. Yaa semacam konsep masuk ke dalam suatu bagian berawal dari bentuknya ( 形から入るという概念 baca : Katachi kara Hairu to iu Gainen).

Nah sekarang mari kita coba melihat pengertian cosplay dari katanya. Cosplay terdiri dari dua kata yaitu Costume dan Play. Pertama-tama mari kita mencoba melihat pengertian dari Costume.

Costume atau dalam bahasa Indonesianya adalah Kostum, merujuk kepada pakaian secara umum atau gaya pakaian tertentu pada orang, kelas masyarakat, atau periode tertentu.[6] Kostum tidak hanya merujuk kepada pakaian saja, tetapi termasuk juga di dalamnya aksesoris seperti kalung, gelang, wig, dan lain sebagainya. Kostum dapat juga merujuk kepada gaya pakaian tertentu untuk menampilkan karakter atau tokoh tertentu yang ingin ditunjukan oleh pengguna.

Dalam drama atau teater, kostum memiliki pengertian segala sesuatu yang dikenakan atau terpaksa dikenakan, termasuk di dalamnya aksesoris, kepada pemain untuk kepentingan pementasan.[7] Kostum dalam drama dan teater digunakan untuk membantu pemain mengembangkan watak dan peran yang diemban dan personalisasi pemain sehingga membantu penonton untuk dapat mengenali tokoh atau peran yang diemban oleh pemain.

Kegunaan kostum ini tidak hanya terbatas pada ruang lingkup drama atau teater semata. Kostum dapat memberikan suatu peran atau role atau yakuwari 役割 kepada orang yang mengenakan, sehingga orang yang melihatnya dapat mengetahui peran apa yang sedang diemban oleh penggunanya, dan sang pengguna juga dapat berubah menjadi peran yang diinginkan. Sebagai contohnya yang paling mudah adalah penggunaan seragam, kita akan langsung bisa menebak kalau orang yang mengenakan seragam coklat, mengenakan topi putih, bersepatu boot, dengan aksesoris peluit, pentungan, dan pistol, berdiri ditengah jalan dan mengatur lalu lintas, adalah polisi. Sang polisi yang mengenakan seragamnya pun, dapat melakukan tugasnya dengan mudah karena orang lain mengenali peran yang sedang diemban oleh sang polisi tersebut. Jadi inilah yang dimaksud kostum dan kegunaannya.

Kata yang berikutnya adalah Play. Apa itu play? Dalam bahasa Inggris play dapat berarti bermain (遊び、戯れ), lakon, atau drama(). Bermain dalam bahasa Jepang bisa diartikan bermacam-macam, seperti asobi 遊び yang memiliki arti bermain secara umum, tawamure 戯れ yang dapat diartikan bercanda, bersenda-gurai, dan bisa juga diartikan gokko ごっこ yang padanan kata dalam bahasa Indonesianya adalah bermain-main dengan berpura-pura menjadi (Contoh keisatsu gokko : bermain polisi-polisian). Karena itu penggunaan kata play di dalam cosplay bisa berarti bermain ataupun bersandiwara.

Dari penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan sederhana bahwa Cosplay adalah bermain-main dengan kostum, dimana kostum tersebut akan dapat memberikan suatu personifikasi terhadap orang yang mengenakannya, sehingga orang tersebut merasa menjadi semakin dekat atau menjadi tokoh atau peran yang kostumnya ia kenakan, dan orang lain juga jadi bisa mengenali dirinya melalui kostum yang dikenakan olehnya.

Dari pengertian di atas, sebenarnya ada 2 kata kunci yang penting dalam cosplay, yakni menjadi dan memperlihatkan. Atau dalam bahasa Jepangnya adalah なりきる dan みせる.

Jenis-Jenis Cosplay

Secara garis besar, cosplay dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan tujuannya, yaitu :

1. Cosplay yang berusaha menjadi Karakter Tertentu. キャラクターになりきること

2. Cosplay yang untuk diperlihatkan. 見せるためのコスプレ

Cosplay yang berusaha menjadi karakter adalah cosplay yang biasa dikenal secara luas dikalangan para penggemar budaya populer Jepang. Cosplay ini dikenal dengan nama kyarakosu (キャラコス) dari kata kyarakutaa kosupure atau cosplay karakter. Dalam cosplay jenis ini biasanya sang cosplayer atau yang biasa disebut Layer (レイヤー), akan ber-cosplay berdasarkan tokoh atau karakter tertentu di dalam anime, manga, game, dan lain-lain. Namun tidak hanya terbatas meniru, tapi juga bahkan membuat originalitas sendiri berdasarkan karakter atau tokoh yang ada di dalam anime, manga, game, dan lainnya. Dengan berbasis kepada kostum dan aksesoris suatu tokoh, layer mencoba memodifikasi kostum yang diciptakannya sendiri, atau bahkan membuat kostum ciptaannya sendiri.

Yang dimaksud dengan karakter di sini adalah karakter dalam artian yang luas. Tidak hanya terpaku pada karakter dalam anime, manga, dan game saja, tetapi juga karakter lain seperti idol, bintang film, kelompok musik, dan lain sebagainya. Yang sering kita lihat dalam cosplay adalah karakter dalam anime, manga dan game saja, karena itu seringkali kita terjebak ke dalam pemikiran bahwa cosplay itu hanya terbatas pada karakter anime, manga, dan game, padahal dalam kenyataannya cosplay tidaklah terbatas hanya pada karakter-karakter tersebut.

Cosplay jenis ini juga tidak hanya meniru kostum karakter saja tetapi juga termasuk di dalamnya mempersonifikasikan suatu benda yang dia sukai, cosplay ini dikenal dengan istilah Gijinka 擬人化. Contohnya para pengemar kereta, mereka ber-cosplay dengan mencoba membuat kereta yang mereka sukai, dengan kostum dan aksesoris yang menjadi ciri khas dari kereta tersebut, seakan-akan kereta tersebut hidup dan mengenakan baju (kostum).

Ada juga doller dan kigurumi, yaitu istilah untuk cosplay yang topeng dan aksesoris baju dari karakter anime tertentu untuk Doller dan cosplay yang mengenakan kostum robot atau binatang untuk kigurumi.

Untuk Cosplay yang diperlihatkan, lebih memusatkan perhatiannya untuk memang diperlihatkan. Dikenal dengan istilah yunikosu (ユニコス) yang merupakan singkatan dari yunifoomu kosupure (ユニフォームコスプレ) atau Uniform Cosplay (Cosplay Seragam). Cosplay jenis ini umumnya adalah cosplay yang mengenakan seragam-seragam tertentu yang sudah umum dikenal di masyarakat. Biasanya seragam-seragam tersebut berhubungan dengan profesi, contohnya adalah cosplay yang mengenakan baju maid (pelayan)メイド服コスプレ, serafuku (baju seragam sailor yang dibiasa dikenakan pelajar smp & sma Jepang), dan lain sebagainya. Cosplay ini biasanya erat hubungannya dengan dunia-dunia usaha, yang memang menjual penampilan sebagai service atau layanan kepada tamu pelanggannya. Contoh yang telah menjadi fenomena terkenal di Jepang sekarang ini adalah Meido Kissa (Maid Cafe).

Ditulis oleh Aji Yudistira, pernah dibawakan dalam acara Bincang-bincang Mengenai Cosplay di Japan Foundation Jakarta, tanggal 24 Oktober 2011

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Costume_play diakses hari Rabu 19 Oktober 2011

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Cosplay diakses hari Rabu 19 Oktober 2011

[4] http://www.paradisearmy.com/doujin/pasok3n.htm diakses pada Hari Kamis 19 Oktober 2011

[5]Mitamura Fukiko, Cosupure Naze Nihonjin ha seifuku ga suki na no k (Jepang : Shoudensha Shinsho, 2008), hlm. 4.

[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Kostum diakses pada Hari Minggu 23 Oktober 2011

[7] Drs. Hasanuddin WS,. M.Hum., Drama Karya Dalam Dua Dimensi (Bandung : Penerbit Angkasa, 1996), hlm. 153.

Friday, September 9, 2011

Woohooo Boyband Era is back.....

pada tahun 1990-an siapa yang tidak kenal dengan NKOTB, Boyz II Men, 98 Degrees, N'Sync ... mereka adalah dewa-dewa boyband yang digila-gilai di hampir seluruh dunia, Amerika, Eropa, Asia, tidak tertutup kemungkinan Negara Timur Tengah bahkan Afrika.
Pada era kejayaan mereka, para 'ABG' putri seperti dibius dengan lirik-lirik romantis memberikan janji-janji surga, wajah-wajah tampan, badan-badan atletis nan aduhai, juga gerakan-gerakan dance yang enerjik dan riang. Setiap penjualan kaset (CD masih termasuk barang mahal pada saat itu) meroket, marketing goods mereka dikejar-kejar dimana-mana, mulai dari poster, gantungan kunci, botol minum, stationary, pokoknya semua hal yang berbau para idola tersebut pasti laku di pasaran. baik yang original maupun yang bajakan, merupakan surga dunia bagi para pedagang keuntungan bisa berlipat-berlipat.
Tapi dengan seiringnya waktu era ketenaran mereka pun lama-kelamaan luntur, digantikan oleh genre baru musik, SKA, alternatif rock, dan sebainya... maka ketenaran merekapun pudar....
akan tetapi di tahun 2011 ini mulai muncul lagi boyband and surprise bukan dari negara belahan barat melainkan dari belahan Timur khususnya, Korea Selatan... Super Junior, SHINEe, 2pm, U-Kiss dan lain-lain bagaikan snowball kedatangan mereka semakin lama bergulir semakin membesar, mempengaruhi setiap aspek budaya anak muda di Asia, bahkan di Indonesia mulai juga bermuculan boyband-boyband lokal yang kecepatannya hampir sama dengan kemunculan boyband Korea. akan tetapi ada missing link disini, meskipun boyband Korea sudah merajai kancah musik boyband di Asia, tapi ada yang sangat kita kenal di gaya mereka, khususnya para penggemar budaya Jepang, yap... mereka itu sangat mirip dengan boyband dari Jepang, seperti Arashi, Kattun, smap..........(to be continued)

Tuesday, December 28, 2010

Yaoi Fandom: Reading Yaoi Comics "An Analysis of Korean Girls 'fandom' by Sueen Noh

Malam-malam hujan ngga ada kerjaan, akhirnya mulai membuka artikel-artikel yang membahas tentang salah satu bahasan penelitian jayapoken, yaitu Yaoi. Dalam artikel yang berjudul Reading Yaoi: An Analysis of Korean Girls 'Fandom' oleh Suen Noh mendapat beberapa penegasan atas asumsi-asumsi yang ada tentang manga bergenre yaoi.
Untuk perkenalan singkat saja manga bergenre yaoi adalah salah satu sub kategori shojo manga yang menceritakan percintaan antar cowok-cowok ganteng dan manis. Dengan kata lain, shojo manga tapi tokohnya saja beda, yaitu antara dua orang laki-laki.
Dalam artikelnya, Sueen Noh memaparkan penelitiannya tentang fandom yaoi di kalangan pembaca perempuan. Sueen menggunakan metodologi Etnographic Interviewing dimana si peneliti terlibat langsung di dalam kehidupan narasumbernya. Awalnya Sueen mengadakan penelitian awal dengan mengadakan kajian literatur seperti artikel-artikel dan jurnal-jurnal yang berhubungan dengan yaoi. lalu dia juga meneliti online forum yaoi sampai akhirnya berhasil mendapatkan 10 narasumber yang bersedia di interview melalui online.
Dalam penelitian ada beberapa poin yang penting, antara lain:
1. Perbedaan antara homosexuality dan homosexual
seperti yang dikutip dalam artikelnya "Interviewees obviously distinguish Yaoi from homosexuality: homosexuality is simply their fantasy, whereas it is an action and a reality for actual homosexual".
dengan kata lain, bagi para fans Yaoi homosexuality adalah khayalan atau fantasi mereka tentang bagaimana sebuah hubungan percintaan, sedangkan homosexual merupakan fenomena yang ada di dalam kehidupan nyata. Bagi perempuan Korea Yaoi berbeda dengan male homosexuality, bagi mereka Yaoi adalah; 1) male homosexuality as simply the subject matter of comics; b) the sexual pleasure of women; 3) female genre and culture. "in conclusion, Yaoi is a genre for women, by women, and of women, which is illuminated by the "female gaze". Interpretasi saya terhadap istilah "female gaze" disini, adalah bagaimana perempuan memandang hubungan antara pria, bagaimana si pria menjadi objek maupun subjek dari sebuah cerita atau kondisi, dimana perempuan mempunyai kepuasan tersendiri meliat pria "terobjekkan"
2. Alasan para perempuan menyukai (dibaca membaca) yaoi
Ketika Sueen menanyakan alasan mereka membaca yaoi, para narasumber langsung menjawab "because it is very interesting" or "because reading it gives me pleasure"
yang menarik dari jawaban mereka .......it give me pleasure" nah, "pleasure" yang seperti apa yang mereka dapatkan, dari semua jawaban disimpulkan ada dua macam "pleasure" yaitu; pleasure of voyeurism and subversion.
Pleasure of voyeurism secara sederhana adalah kepuasan yang didapatkan (bisa kepuasan seksual) dari melihat yang bersifat erotik atau seksual. Bagi masyarakat Korea yang sangat kuat sistem patriakatnya, perempuan korea merasa takut untuk mengekspresikan keinginan seksual secara bebas, karena kental nilai-nila konfucu di masyarakat Korea, maka Yaoi bisa menjadi media atau sarana untuk memuaskan keinginan dan kepuasan seksual mereka. Seperti dikutip dari Ogi dalam artikelnya ...."therefore, male sexuality in girls comics has been understood "as a subtitute for heterosexual relationship for women who could not face their own sexuality"
The Pleasure of Subversion, kepuasan subversif disini adalah kepuasan dari para perempuan pembaca yaoi memutarbalikan "male gaze" menjadi "female gaze". Dalam "male gaze" tokoh perempuan dalam media seperti film, komik diciptakan untuk membangkitan gairah para laki-laki, nah teori ini bisa di gunakan juga pada yaoi dimana para perempuan melihat tokoh-tokoh yaoi melalui "female gaze" mereka, disini perempuan bukan lagi objek napsu para laki-laki tapi justru para laki-laki lah yang menjadi objek. "In other words, women entertain themselves through Yaoi by becoming the active subjects of narratives, for Yaoi displays heroes as passive objects. it is the very fascination with Yaoi that allow women who have been objectified by the male gaze in mass media to instead become the subjects of gaze dominating male personae in reverse.

To be continued......

Friday, September 17, 2010

Modernisme

Apabila kita membicarakan budaya populer, maka kita tidak bisa lepas dari kondisi kemunculan budaya populer yaitu konsep "Modernisme"

Apakah yang dimaksud dengan Modernisme?

Secara sederhana modernisme adalah suatu keadaan yang serba maju, gemerlap dan menenangkan hati. Dengan kata lain mengacu kepada perkembangan teknologi seperti ditemukannya listrik, diciptakannya mobil, kereta api, makanan siap saji, telepon genggam, komputer, internet dan lain sebagainya. hasil dan karya cipta tersebut berkembang dan bermetamorfosis di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam hal ini modernisasi menandakan kondisi selalu berubah dan tidak pasti dan juga menjanjikan suatu kondisi yang lebih baik.

Apakah benar demikian adanya?

Adapun bentuk-bentuk kebudayaan yang menandai modernisasi antara lain: a) Rasionalitas, b) industri, dan c) teknologi.

Rasionalitas adalah hasil dari pencerahan "akal budi" yang membantu kita menghadapi mitos-mitos serta keyakinan-keyakinan tradisional yang tidak mendasar. Menurut Chris Baker "akal" dapat mende-mistifikasikan dan menyingkap dunia, mengalahkan agama, mitos dan takhayul.
sedangkan dalam filsafat: "akal" sumber kemajuan dalam pengetahuan dan masyarakat, sehingga munculah istilah "filsafat pencerahan" --> mencari kebenaran universal, yakni prinsip-prinsip pengetahuan yang berlaku pada waktu, tempat dan budaya manapun.

Dalam filsafat pencerahan --> mendorong perkembangan ilmu-ilmu, pendidikan universitas, dan kebebasan dalam politik dan keadilan.

Pada permukaannya paparan tentang konsep modernisasi memang nampak disekeliling kita, tapi para pemikir aliran Marx berpendapat pemikiran tentang pencerahan bukannya melahirkan kemajuan, tetapi justru memunculkan penindasan dan dominasi. Menurut mereka, akal mengarah bukan pada pemenuhan kebutuhan material atau pencerahan filosofis, melainkan kepada kontrol dan perusakan.

Teknologi --> akan membawa kita ke kehidupan yang serba mudah, cepat, dan lebih baik --> menawarkan penyelesaian kilat ( John Naisbit).

Teknologi juga mempunyai "sisi gelap" (Baker mengutip Berran) "menjadi modern sama artinya dengan berada di sebuah lingkungan yang menjanjikan petualangan, kekuasaan, kegembiraan,
pertumbuhan, transformasi diri dan dunia kita- yang sekaligus juga mengancam akan rusak segala yang kita miliki, segala yang kita tahu, dan keseluruhan diri kita".

Dengan kata lain, modernisme itu bukan budaya yang pasti, tetapi dinamisme modernitas itu sendiri didasarkan pada revisi pengetahuan secara terus menerus.



Tuesday, September 14, 2010

Vocaloid: “Eh? Bukan anime?”





By:Rizki Musthafa A

Dua tahun sudah saya mengenal kata ini. Ketika saya berkenalan untuk pertama kalinya dengan kata ini sekitar akhir 2008, kalimat yang muncul di benak tidak lebih dari : “karakter anime ini lumayan menarik yah”.

Salah. Ternyata VOCALOID bukanlah anime.

Dua tahun yang lalu, tepatnya 9 November 2008, bukan sebuah kebetulan juga rasanya ketika saya dengan niat menggebu berkunjung ke sebuah festival, Japan-Indonesia Matsuri, di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran.

Siang itu di antara banyaknya acara yang berlangsung, ada pula lomba parade cosplay di salah satu sudut panggung yang telah disediakan oleh panitia. Beberapa grup cosplay pun menampilkan kabaret-kabaret yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Muncullah sebuah grup kabaret, yang menampilkan karakter-karakter dari “Vocaloid”. Seperti telah saya ungkapkan di atas, Vocaloid, bagi saya saat itu, mungkin memang sama saja dengan anime-anime lain yang pernah saya tonton selama ini. Tidak lebih dari perasaan tertarik oleh warna-warni karakternya (bisa jadi juga karena manisnya para cosplayer yang berperan di sini?/////). Mereka meng-cover sebuah tarian, diiringi lagu yang bernuansa cukup unik. Kami para otaku lebih menyebut rasa unik ini: ‘moé’, imut, cukup dapat membuat pipi anda bersemu merah melihatnya. Belakangan saya mengenali lagu ini sebagai “Kurutto Mawatte Ikkaiten”, lagu penutup ke-9 dari seri anime Keroro Gunsou. Yang membuat saya terkesan saat itu lebih kepada si tokoh utama (setidaknya terlihat jelas anak inilah tokoh utamanya), gadis berambut hijau terang dan keluar dengan kata-kata “Miku da mon...”.

Dialah Hatsune Miku.

Cerita ini pun bergulir sampai ke awal tahun 2009. Setelah menjelajahi dunia maya akhirnya saya tahu apa sebenarnya Vocaloid ini: Software. Ya, alih-alih sebuah serial animasi seperti yang saya bayangkan sebelumnya, ternyata vocaloid adalah sebuah piranti lunak yang dipergunakan di komputer.
Menurut informasi yang saya tonton dari Asahi TV, dua buah perusahaan di Jepang, yaitu Yamaha dan Crypton Future Media Co.Ltd. beberapa tahun belakangan telah bekerjasama mengembangkan sebuah piranti lunak yang dapat dibuat bernyanyi seperti layaknya seorang penyanyi manusia, dengan menggunakan file MIDI beserta ketikan lirik yang kita masukkan ke dalamnya.
Dengan kata lain, sebuah Penyanyi Virtual.
Dengan kata lain, ya... Vocaloid ini. Saya membayangkan pada akhirnya punya seorang teman penyanyi yang menginap seharian di kamar, dapat disuruh bernyanyi kapan saja. Apa saja mau ia nyanyikan, tanpa keluh, tanpa bosan, tanpa minum atau makan, sesetia itu.
Beberapa pejalan kaki yang diwawancarai di kawasan pusat perdagangan elektronik Akihabara, pun mengakui kekaguman mereka dan tak menyangka bahwa yang ‘bernyanyi’ adalah sebuah software, ketika mereka berjalan-jalan di trotoar dan mendengarkan lantunan suara dari Hatsune Miku.

Sepanjang akhir tahun 2008 saya pun mengunduh dan membaca lumayan banyak informasi di internet mengenai robot, manusia buatan, kecerdasan buatan, sampai kepada ramalan Davy Levy seorang peneliti di Universitas Maastricht, Belanda: "Negara bagian Massachusets, Amerika Serikat bisa saja mulai merumuskan undang-undang perkawinan antara manusia dan robot pada tahun 2050". Melihat begitu ramainya dunia industri robot, wajar rasanya jika saya masih menganggap fenomena piranti lunak Vocaloid, sama saja hebohnya seperti Asimo yang bisa melakukan berbagai hal, termasuk bernyanyi, menari, dan memainkan alat musik, hanya sebagian contoh lain saja dari perkembangan teknologi. Belum timbul pikiran bahwa hal ini ternyata telah dianggap titik tolak yang ternyata telah di-klaim sebagai tonggak sejarah industri hiburan di abad 21 ini.

Sebagai salah seorang pengguna piranti digital dalam bermusik, rasa wajar tersebut mulai berubah setelah saya mencoba sendiri seperti apa penyanyi virtual ini ketika beraksi. Beberapa lagu berbahasa Jepang yang telah saya gubah sebelumnya, (sejak tahun 1994) sudah memiliki lirik, namun belum dapat dinyanyikan karena saya tak menemukan vokalis perempuan yang pas suara dan hawa moe-nya. Beberapa orang teman yang pernah berkolaborasi dalam band komunitas pecinta lagu-lagu jepang pun tak mungkin saya paksa untuk menyanyi lebih moe, selain keterbatasan waktu, jarak dan juga (maaf) karena bukan pasangan sendiri. Lebih tidak menarik lagi kalau laki-laki yang bernyanyi.^^Salah satu lagu yang pernah dipublikasikan pada masa-masa awal saya menggunakan Vocaloid sebagai penyanyi virtual adalah soundtrack dari Gelar Jepang UI 2009, “Kanashii toki wa Itsumo Hatenakute Mieta” (Suara karakter yang pertama-tama saya gunakan adalah Hatsune Miku). Soundtrack pendahulunya untuk tahun 2004, 2005, dan 2007, “Niji no Kuni”, juga dinyanyikan dengan apik oleh Vocaloid Hatsune Miku, walau terkesan sangat elektronik (mau bagaimana lagi, toh Miku memang software).
Sejak pengalaman-pengalaman ini, warna suara Miku yang mewakili remaja SMU usia sekitar 16 tahunan cukup membuat saya merasa impian membuat lagu berbahasa Jepang yang bergaya kawaii atau moe, sebagian telah terwujud.

VOICE LIBRARY YANG MENJUAL?

Karakter Miku tidak sendirian dalam dunia tarik suara virtual, ia merupakan jilid kesekian dari seri-seri karakter yang telah mewakili software Vocaloid sebelumnya. Dalam hal ini pula ternyata terjadi persaingan dari perusahaan-perusahaan pembuat vocaloid. Para perusahaan pembuat menyebut karakter-karakter ini dengan istilah voice library, atau CV (Character voice).

Zero-G Unlimited, sebuah perusahaan Inggris, terlebih dahulu memproduksi Vocaloid. Voice Library pertama mereka, Leon dan Lola, mengawali perjalanan idola-idola virtual ini sejak ditampilkan dalam NAMM show, 15 Januari 2004. Bank suara mereka dilanjutkan oleh Vocaloid Miriam, yang suaranya diisi oleh penyanyi Inggris, Miriam Stockley (diterbitkan 1 Juli 2004).

Crypton Future Media yang berpusat di Sapporo, Hokkaido, Jepang pun menerbitkan juga Vocaloid Meiko (5 November 2004), yang karakternya mewakili seorang model, Meiko Haigo. Walau demikian suara Meiko murni dibuat secara digital. Lalu terbitlah vocaloid berikutnya yaitu Vocaloid Kaito pada tanggal 17 Februari 2006, setelah terlebih dulu memperkenalkannya pada khalayak pada tanggal 3 Maret 2004. Suara Kaito diambil dari penyanyi Naoto Fuuga. Sayangnya Kaito tidak begitu disambut dengan meriah, karena suara laki-lakinya sepertinya kurang begitu menarik bagi para otaku. Bagaimanapun, Crypton Future Media sebagai perusahaan pembuat Vocaloid di Jepang tampaknya lebih menyadari pentingnya arti sebuah karakter atau penokohan dalam memasarkan Vocaloid dibandingkan dengan perusahaan saingannya di Eropa.
Yamaha pun mengumumkan seri Vocaloid 02 pada bulan Januari 2007. Hanya satu bulan berselang, Power FX, sebuah perusahaan Swedia merilis pula Vocaloidnya yang bernama SweetAnn. Setelah itu Crypton Future Media memutuskan untuk menghadirkan karakter yang lebih kuat daya tariknya dalam Vocaloid 02, yaitu Hatsune Miku pada tanggal 17 Agustus 2007. Nama Miku sendiri berasal dari huruf kanji Hatsu (初, awal), Ne (音, bunyi), dan Miku (未来, Masa Depan, ditulis dalam huruf katakana ミク).
Pasar otaku di Jepang pun bergolak. Hatsune Miku, yang suaranya disulih oleh pengisi suara Saki Fujita berhasil meraih angka penjualan yang demikian tinggi hingga habis stoknya di hari pertama dipasarkan.

Kaito, Meiko dan juga Miku beserta voice library lainnya yang nantinya menyusul, meraih nilai lebih, terbukti dari tingginya permintaan akan piranti ini sejak diluncurkan. Terlebih lagi Crypton sepertinya menyadari pula bahwa karakter yang bersifat moe dapat lebih diterima. Vocaloid beserta karakter-karakternya muncul sebagai fenomena yang merebak bagaikan jamur di musim hujan.

Desain Hatsune Miku, yang dirancang oleh ilustrator bernama samaran KEI, menjelma menjadi ikon idola yang disukai dan dengan cepatnya menjadi idola bagi sebagian besar kalangan otaku. Beberapa saat kemudian, seiring dengan popularitas Miku yang semakin meningkat, Crypton Future Media kemudian ‘membuatkan’ adik kembar bagi Miku, Kagamine Rin dan Kagamine Len, yang suaranya diisi oleh Asami Shimoda.
鏡音リン・レン act2

sementara karakter lain yang tampil lebih dewasa, Megurine Luka diluncurkan seiring dipasarkannya Vocaloid 02. Suaranya diisi oleh Yuu Asakawa.

Bahkan seorang artis penyanyi terkenal Jepang asal Okinawa, Kamui Gackt, bersedia pula menyumbangkan suaranya untuk menjadi salah satu warna suara yang dapat dipasang dalam Vocaloid. Nama karakter yang diberikan adalah Kamui Gakupo, atau GACKPOID.

Sebuah situs video streaming yang bernama NicoNicoDouga, ternyata tak sengaja menjadi batu loncatan bagi Hatsune Miku dan kawan-kawannya menuju popularitas yang lebih jauh. Video klip berjudul Ievan Polkka, yang diunggah dalam situs NicoNico Douga dan juga Youtube banyak diakui di kalangan otaku sebagai video pertama pemicu lahirnya ritual untuk mencover lagu-lagu yang tercatat sebagai lagu resmi Hatsune Miku. Di situ digambarkan daun bawang yang diayun-ayunkan oleh Miku sambil bernyanyi.

Miku sendiri dalam video itu tampil dengan wajah yang lebih berciri karikatur. Banyak fans yang menamai Miku mungil ini “Hachune Miku” (kemudian nama ini pun diakui pula oleh perusahaan pembuatnya sebagai Miku dalam porsi badan mungil).

Video klip yang dibuat oleh penggemar, dinikmati bersama, ditampilkan bersama lagu yang dibuat oleh penggemar juga. Software ini memperoleh ‘nafas’ dan ‘jiwa’-nya dari komunitas otaku. Hanya saja kali ini merambah ke tingkat yang lebih jauh. Tidak hanya untuk dinikmati bersama, namun diproduksi bersama-sama. Lagu-lagu yang terkumpul menjadi album, berbagai tribut untuk lagu terkenal lainnya yang sudah ada, mulai dari J-Pop, J-Rock ,Soundtrack Anime/ Game, bahkan Enka dan lagu tradisional Jepang lainnya kemudian tersebar luas, dinyanyikan oleh para Vocaloid ini. Situs knowyourmeme.com bahkan menyebutkan bahwa lagu yang telah terkumpul dan dinyanyikan oleh vocaloid telah melebihi 9000 buah. Para musisi, baik amatir maupun profesional, grup maupun perorangan bersama-sama menggunakan Vocaloid dalam lagu yang mereka mainkan.
Sasaran pengguna yang ingin dicapai oleh Crypton Future Media tadinya mungkin saja hanya beberapa kalangan pengguna komputer, lebih tepatnya para musisi, amatir maupun profesional, yang bekerja lewat piranti digital. Hanya saja, sebagian besar musisi profesional di dunia (baca: berbahasa Inggris) baru menggunakan Vocaloid sebagai alat untuk mensimulasikan sebuah lirik lagu untuk diperdengarkan kepada sang penyanyi manusia sebelum rekaman, kalaupun tidak untuk dijadikan penyanyi latar.
Sementara itu, dunia komunitas otaku dan komunitas online mengenal istilah doujinshi, yaitu karya amatir yang dibuat lebih untuk kesenangan dan penghargaan terhadap suatu karya yang telah keluar sebelumnya. Dalam hal ini peran internet sebagai media yang dapat menyebarluaskan sang “virtual idol” amatlah penting. Tidak hanya NicoNicoDouga, melainkan juga situs video streaming lainnya yang lebih dikenal seperti YouTube.
Dengan adanya lingkar kerja yang lebih rumit dan dikerjakan lebih serius seperti ini, mungkinkah Hatsune Miku hanya ditampilkan untuk kesenangan belaka? Pada tanggal 27 Agustus 2008, Oricon Chart mengukuhkan album Vocaloid, “Re-Package” (oleh Livetune) yang terjual sebanyak 20000 kopi. Album ini meraih peringkat kelima di minggu yang sama.
(BERSAMBUNG)