Wednesday, November 7, 2012

Konsep Ideologi dalam kajian budaya populer

Sebagaimana telah dijelaskan di entri sebelumnya, dalam mengkaji budaya populer ada tiga konsep penting, yaitu budaya, ideologi, dan populer. Entri sebelumnya sudah memberikan definisi budaya yang terkait dengan kajian budaya populer, maka kali ini akan menjelaskan konsep kedua yaitu konsep ideologi.  
Berkaitan dengan ideologi, John Storey, dalam bukunya yang berjudul "Teori Budaya dan Budaya Pop",  memberikan lima definisi  ideologi. Pertama, ideologi merupakan suatu pelembagaan gagasan-gagasan sistematis yang diartikulasikan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Kedua, ideologi adalah teks-teks atau praktik-praktik budaya tertentu yang menghadirkan berbagai macam citra tentang realitas tertentu yang sudah didistorsi atau diselewengkan. Teks-teks dan praktik-praktik itulah yang kemudian memproduksi apa yang disebut sebagai ‘kesadaran palsu’. Ketiga, ideologi adalah teks-teks budaya atau ‘bentuk-bentuk ideologis’ untuk mempresentasikan citra tertentu tentang dunia. Keempat, ideologi bukan hanya sebagai pelembagaan ide-ide, tetapi juga sebagai suatu praktik material. Artinya, ideologi bisa dijumpai dalam ‘praktik’ kehidupan sehari-hari dan bukan hanya dalam ‘ide-ide’ tertentu tentang kehidupan sehari-hari. Kelima, ideologi berfungsi terutama pada level konotasi, makna sekunder, makna yang seringkali tidak disadari, yang ditampilkan oleh teks atau praktik, atau yang bisa ditampilkan oleh apapun. Ideologi (atau mitos, menurut Barthes) dalam definisi ini menuntun kita pada perjuangan hegemonik untuk membatasi konotasi, untuk menetapkan konotasi-konotasi partikular, dan memproduksi konotasi-konotasi baru (2003, 4-9). Dalam sudut pandang cultural studies, yaitu pernyataan dari Stuart Hall, jika ingin membahas budaya pop kita tidak bisa tidak membahas idelogi. Hal ini berdasarkan anggapan bahwa semua fenomena atau gejala budaya yang terjadi disekeliling kita adalah hasil konstruksi makna dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan. Dengan kata lain, pembahasan mengenai budaya pop kita tidak bisa mengabaikan ideologi yang  terinternalisasi di dalam media dan elemen budaya pop tersebut. Maka dari itu penting adanya kita memahami tentang konsep ideologi.

Saturday, October 20, 2012

Selamat Tinggal Anime TV Series Natsu 2012, Selamat Datang Anime TV Series Aki 2012.

Dengan dimulainya bulan Oktober ini, maka banyak Anime berseri untuk televisi periode musim panas 2012 pun banyak yang berakhir. Diantaranya adalah Kokoro Connect, Campione! Matsurowanu Kamigami to Kamigoroshi no Maou, Tari Tari, Arcana Famiglia, Jinrui wa Suitai Shimashita, Moyashimon Return, Bimbogami, Yuru Yuri 2, Dakara Boku ga H Dekinai, Hagure Yusha no Aesthetica, Koi Senkyo to Chocolate, Joshiraku, Kono Naka ni Hitori, Imouto ga Iru, Dogs Day', Oda Nobuna no Yabou, Kyoukai Senjou no Horizon 2, dan lain-lain. Ada yang masih terus berlanjut seperti Sword Art Online dan Muv Luv Alternative, ada juga yang berakhir setelah lanjut dari periode musim Semi 2012 yang lalu.

Selama 3 bulan ini, kita telah banyak dihibur oleh mereka, dan tentu saja di antara Anime jenis TV Seri periode musim panas ini, ada yang berkesan di hati kita dan ada juga hanya sekedar "numpang lewat." Dan kalau menurut Miyahara Koujiro, dalam buku Manga no Shakaigaku, apapun jenis karyanya, baik itu berupa film, manga, novel, ataupun anime,

“傑作は傑作だ。(Kessaku wa kessaku da)”(Miyahara:2001, hlm 7)

Sebuah karya besar, apapun bentuknya, adalah karya besar. Baik novel, film, drama, manga ataupun anime, tak perduli apapun jenis karyanya, sebuah karya besar pastilah dapat berkesan di hati kita. Kenapa dia bisa berkesan di hati, tentunya karena ada yang menarik perhatian kita, ada yang dapat membangkitkan emosi perasaan kita, atau ada yang membuat kita berpikir kembali akan keadaan kita dan lingkungan kita. Karena itu,

 “意識的な考察に値する何かがある。(Ishikiteki na kousatsu ni atai suru nani ka ga aru)”(Ibid

Karya tersebut pantas untuk mendapatkan nilai perhatian yang lebih untuk diteliti, karena di dalam karya tersebut pasti ada sesuatu yang beharga untuk dipertimbangan secara secara sadar.

Salah satu diantara anime TV seri periode musim panas 2012 yang menarik perhatian saya adalah Kokoro Connect.
Kokoro Connect atau kokoro konekuto adalah serial anime televisi yang bercerita tentang 5 orang pelajar SMA Swasta Yamaboshi (私立山星高校) yang tergabung di dalam klub penelitian budaya, dimana mereka mengalami kejadian-kejadian aneh, di dalam kehidupan & pergaulan mereka. Dimulai dari bertukarnya kesadaran diantara mereka, sampai pada berubah wujud kembali menjadi mereka di masa kanak-kanak. Peristiwa yang terjadi tidak masuk akal dan sulit dicerna oleh pemikiran kita pada masa kini. Lha wong masa sich, kita bisa bertukar kesadaran, atau berubah wujud kembali menjadi anak kecil. Asyik juga kalo bisa kembali menjadi muda, saya juga mau tuh, balik kembali menjadi muda mengulang rasa remaja, he he he he.

Lepas dari peristiwa yang tidak masuk akal tersebut, dan  dibalik kejadian-kejadian aneh tersebut, ada hal-hal yang mengelitik pemikiran saya. Terutama hal-hal yang berhubungan dengan persahabatan.

Apa itu? Mari kita lihat bersama-sama content atau isi dari masing-masing sequence atau rangkaian/urutan cerita dalam anime serial tv ini. Saya akan mencoba membagi serial tv ini menjadi tiga sequence berdasarkan kejadian-kejadian aneh yang dialami oleh kelima pemeran utama film ini.

Ah, sebelum masuk ke isi cerita dan analisisnya, mungkin ada baiknya diperkenalkan masing-masing dari tokoh utama yang ada di dalam film ini.

Pengenalan Tokoh


Ta'ichi Yaegashi, bisa dikatakan dialah tokoh utama dari film ini, anak laki-laki yang tidak banyak bicara dan memiliki sifat perhatian terhadap orang lain. Apabila ada temannya yang mengalami kesulitan dia rela membantu, berkorban demi memecahkan kesulitan yang dialami temannya tersebut. Bahkan bisa dikatakan sifat rela berkorbannya ini sudah sangat berlebihan. Asalkan teman-temannya senang, dia rela mengorbankan kepentingannya, acap kali apabila ada tugas yang dibebankan kepada kelasnya dan tidak ada teman-teman sekelasnya yang ingin mengerjakan tugas tersebut, ia langsung mengajukan diri untuk mengerjakan tugas tersebut. Karena sifatnya ini, ia dijuluki jikogiseiyarou (自己犠牲野郎)(orang yang suka mengorbankan diri (punya arti yang negatif)) oleh Himeko Inaba. Hobinya adalah Gulat profesional dan mempunyai adik yang masih SD bernama Rina. Saking perhatiannya terhadap adiknya, sering kali teman-temannya menganggap Ta'ichi itu Siscon (Sister Complexs).
 
Iori Nakase, teman sekelas Ta'ichi, anak perempuan yang ceria, sifatnya periang, pandai bergaul dan terkenal di sekolahnya. Dia adalah ketua klub penelitian budaya yang merupakan klub tempat kelima tokoh ini berada. Walaupun dia adalah ketua klubnya, tapi dia lebih berperan sebagai mood maker dalam kelompok dibandingkan sebagai orang yang memimpin atau menyatukan kelompok klub sastra ini. Entah apa karena sifatnya yang memang periang dan lugu, sering kali dia melakukan hal-hal yang diluar dugaan. Sifatnya yang ceria, periang dan pandai bergaul ini membuatnya menjadi orang yang terkenal di sekolahnya, ditambah lagi wajahnya yang cantik dan manis, banyak anak laki-laki yang menjadi fansnya. Rahasia sifat pandai bergaulnya ini adalah ternyata sejak kecil, ia pandai menyesuaikan diri, pandai melihat orang sekitarnya, apa yang diinginkan oleh orang sekitarnya, lalu menyesuaikan diri dengan orang sekitarnya, dan hal inilah yang ternyata menjadi sumber kekhawatiran dan masalah bagi diri pribadinya. Dia suka dengan Ta'ichi dan suka hampir resmi menjadi pacarnya.


Himeko Inaba, wakil ketua klub Sastra, juga teman sekelas Ta'ichi dan Iori. Pandai dalam hal mengumpulkan informasi dan menganalisis masalah, bahkan dia juga memegang informasi yang bersifat pribadi dari tiap-tiap anggota klub penelitian budaya. Sifatnya tenang dan logis, tipe yang lebih mendahulukan logika dibandingkan perasaan. Walaupun demikian ia bukanlah orang yang trampil dalam berbagai hal apalagi dalam hal berbicara dengan orang lain, sering kali ia tidak bisa menggunakan ungkapan-ungkapan yang tidak langsung di dalam menasehati orang lain, mengatakan straight to the point sehingga banyak mengagetkan orang-orang di sekitarnya, dan terkesan bermulut pedas. Karena mulutnya yang terkesan pedas ini, ia dijuluki tuan putri, atau ratu. Sebenarnya Himeko memiliki trauma yang menyebabkan ia jadi tidak percaya terhadap orang lain (ningenfushinsha 人間不信者) dan dia merasa benci kepada dirinya sendiri yang tidak bisa mempercayai teman-temannya yang ada di dalam klub Sastra ini. Diam-diam dia mempunyai perasaan suka pada Ta'ichi.



Yui Kiriyama, anggota klub penelitian budaya yang berbeda kelas dengan Ta'ichi, Iori, dan Inaba. Seorang wanita yang sporty, kaya akan ekspesi perasaan dan tipe orang yang langsung mengungkapkan pikiran dan perasaannya pada saat itu juga. Berpostur tubuh kecil, namun dia adalah seorang karateka yang sudah mempunyai dan (tingkatan), dan pernah menjadi juara sewaktu SMP. Suka dengan benda-benda yang imut dan lucu, di kamarnya penuh dengan pernak-pernik yang lucu dan fancy. Seringkali dia bersikap acuh tak acuh pada Yoshifumi Aoki yang agresif mendekatinya. Walaupun dia orang aktif dan ceria, namun sebenarnya dia orang yang phobia terhadap laki-laki (男性恐怖症(danseikyofuushou)/Androphobia), akibat masa lalunya yang pernah hampir diperkosa semasa SMP. Sikap acuh dan tak acuh terhadap Yoshifumi yang agresif mendekatinya ini akibat dari phobia ini.



Yoshifumi Aoki, anggota klub penelitian budaya yang sekelas dengan Yui. Memiliki perasaan suka kepada Yui dan terus agresif melakukan pendekatan kepada Yui, namun selalu diacuhkan. Seringkali terlihat dengan jelas sikap yang menyedihkan dan perbuatan-perbuatannya yang konyol dan bodoh, namun ucapan-ucapannya seringkali menghibur orang-orang disekitarnya. Ia sering dipanggil Ahoki (Aho アホ: Bodoh) oleh Himeko, karena perbuatannya yang konyol. Prinsipnya asalkan menyenangkan maka tidak masalah. Sebenarnya ia sedikit merasa iri kepada Ta'ichi yang lebih bisa diandalkan oleh teman-temannya (terutama Yui) daripada dirinya. Walaupun demikian, ia tetap menghormati dan menyukai Ta'ichi sebagai seorang teman baiknya.

Demikian sedikit pengenalan 5 tokoh utama di dalam film Anime Kokoro Connect ini. Balik kembali kepada isi cerita dan analisisnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa anime ini bercerita tentang kehidupan 5 orang anak pelajar SMA yang mengalami kejadian-kejadian aneh pada dirinya. Nah, kejadian-kejadian aneh yang seperti apa yang telah mereka alami? Yang pertama adalah pertukaran kesadaran, atau dalam bahasa Jepangnya jinkaku irekawari (人格入れ替わり), berikutnya adalah adalah pelepasan atau membuka nafsu atau yokubou kaihou (欲望開放), dan kejadian aneh yang terakhir adalah fisik, mental dan ingatan kembali ke masa kecil atau jikan taikou (時間退行).

Sinopsis Cerita


Oke, mari kita coba tengok cerita dari sequence pertama yaitu pertukaran kesadaran, dalam anime ini dimulai dari episode 1 sampai pada episode 5. Fenomena pertukaran ini dimulai pada malam hari, dan yang pertukar kesadarannya adalah antara Yui Kiriyama dan Foshifumi Aoki. Awalnya mereka berdua tidak percaya dan menganggap itu hanyalah mimpi belaka. Namun keduanya saling mencocokan kejadian yang menimpa mereka, dan menceritakannya kepada anggota klub sastra yang lain. Ketika Yui dan Aoki menceritakan keanehan tersebut, Ta'ichi, Iori dan Himeko tidak mempercayainya dan menganggap bahwa itu hanya mimpi belaka dan kebetulan Yui dan Aoki bermimpi hal yang sama, tapi tiba-tiba terjadi pertukaran kesadaran antara Iori dengan Ta'ichi. Sehingga mau tidak mau mereka harus mempercayai bahwa kejadian aneh berupa pertukaran kesadaran yang mereka alami adalah kenyataan.



Di saat itu mereka mulai dapat menerima fenomena aneh yang menimpa mereka, muncul guru mereka yang bernama Ryuusen Goutou, dengan keadaan yang aneh. Ternyata ada makhluk lain yang mengendalikan atau merasuki guru mereka dan mengaku bernama Fuusen Kazura, lalu mengaku kepada mereka bahwa pertukaran kesadaran tersebut adalah ulahnya. Dari sini mulailah rentetan pertukaran kesadaran terjadi, kelima-limanya saling bertukar kesadaran secara acak atau random. Dai pertukaran kesadaran ini, akhirnya mereka berlima menyadari bahwa masing-masing dari mereka memiliki permasalahan yang selama ini tidak mereka sadari, baik itu permasalah teman mereka (diantara 5 orang tersebut) atau pun permasalahan mereka sendiri yang berusaha mereka lupakan. Seperti trauma dan Phobia yang dialami Yui, perasaan tidak percaya kepada orang lain yang dimiliki Himeko, identitas diri sendiri yang menjadi masalah bagi Iori, dan lain sebagainya.

Di akhir sequence, Iori dan Ta'ichi saling mengungkapkan perasaan suka yang dipendam oleh diri mereka selama ini, namun tiba-tiba Fuusen Kazura muncul dengan merasuki tubuh Iori, lalu mengendalikan tubuh Iori, membuatnya melompat dari atas jembatan. Sehingga Iori terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit. Lalu di rumah sakit, Fuusen Katsura muncul kembali dan menyatakan bahwa harus ada korban di antara mereka untuk menyelesaikan fenomena pertukaran kesadaran ini, dengan korban tubuhnya adalah Iori, ia meminta salah satu kesadaran dari kelima anggota klub Sastra ini juga ikut hilang seiiring dengan tubuh Iori yang sekarang sedang berada di ICU.

Dari kejadian aneh yang kedua adalah pelepasan nafsu, dimulai dari episode ke 6 sampai pada episode 10. Kejadian aneh ini dimulai setelah 3 minggu fenomena pertukaran kesadaran berakhir, dengan dipicu oleh tindakan aneh yang dilakukan oleh Himeko Inaba, ketika sedang berdua dengan Ta'ichi di dalam ruang klub penelitian budaya. Lagi-lagi Fuusen Kazura melakukan percobaan kepada kelima tokoh cerita ini, dengan cara acak memacu nafsu mereka, sehingga nafsu yang biasa bisa mereka tahan dan sembunyikan dengan akal sehat mereka, tidak bisa tertahan dan lepas begitu saja, sehingga emosional mereka meluap dan tindakan mereka menjadi berlebihan.

Akibat dari fenomena ini, Yui jadi harus berhubungan dengan polisi karena tindakannya yang berlebihan menghajar orang yang mengganggu teman sekolahnya. Dia menjadi syok dan mengurung diri di kamarnya, karena takut tindakannya akan menyakiti orang  di sekitarnya. Taichi dan Aoki juga sempat bertengkar, karena Taichi, yang selalu ingin membantu orang lain karena pelepasan nafsu tersebut tindakannya menjadi agak tidak terkendali, dan hal ini memicu perasaan kompleks terhadap Taichi yang diam-diam ada di dalam diri Aoki, yaitu perasaan rendah diri, dimana ia merasa tersaingi, merasa tidak berguna dibandingkan Aoki. Himeko Inaba sendiri, juga terkena efek dari fenomena pelepasan nafsu ini, dia menjadi menarik diri dari pergaulan, menjaga jarak dan menarik garis tegas antara dirinya dan teman-temannya, karena takut ucapannya akan berlebihan dan menyakiti perasaan teman-temannya, seperti yang telah ia lakukan pada saat menasehati Yui, yang mengurung diri dikamarnya dan menutup diri dari pergaulannya.  

Akhir Sequence dari fenomena pelepasan nafsu ini dimulai  setelah Taichi mendapatkan nasehat dari gurunya, Ryuusen Goutou, dan ketua kelasnya yang bernama Maiko Fujishima, dan puncaknya terjadi pada acara berkemah alam terbuka. Di acara ini, terjadi konfrontasi antara Himeko Inaba dan Iori Nakase, mereka berdua berbicara dari hati ke hati dan mengungkapkan perasaan mereka yang sama-sama suka kepada Taichi. Inaba memendam perasaannya karena takut merusak hubungan persahabatan dengan Iori, dan Iori memarahi Inaba karena menurutnya persahabatan mereka tidak akan hancur hanya karena mereka berdua suka pada satu orang yang sama.

Penyelesaian dari sequence ini, mereka bisa lebih jujur terhadap perasaannya dan lebih bisa menerima diri sendiri dan tidak takut atau sungkan untuk mengeluarkan isi hati atau honne (本音) mereka kepada teman-teman dekatnya. Terutama Himeko Inaba yang akhirnya menyatakan perasaan sukanya terhadap Taichi yang selama ini dia pendam.
 
Sequence terakhir yaitu jikan taikou (時間退行) atau mengalami kemunduran waktu, balik kembali ke masa kecil mereka, baik fisik maupun mental mereka. Sequence ini dimulai dari episode 11 sampai 13. Kejadiannya diawali pada hari setelah selesai upacara penutupan semester menjelang libur musim dingin, di pengumuman di papan tulis klub penelitian budaya, tertuliskan nama anggota klub penelitian budaya kecuali Taichi dan tulisan jam 12 - jam 17.

Begitu jam 12 tiba, Iori dan Yui tiba-tiba berubah menjadi anak kecil. Walau fisik mereka berubah menjadi anak kecil, namum ingatan mereka masih tetap ada. Mereka masih mengenal Inaba, Taichi, dan Aoki. Malamnya, sesampai Taichi di rumah, adiknya tiba-tiba bersikap aneh dan ternyata dia dikendalikan oleh Fuusen Kazura, namun bukan Fuusen Kazura yang sama dengan yang biasa mereka hadapi. Ia mengaku sebagai Fuusen Kazura 2. Ia mengabarkan kepada Taichi bahwa Taichi harus menjadi satria yang menolong keempat teman-temannya yang diubah kembali menjadi anak kecil, karena hanya dia yang tidak akan diubah menjadi anak kecil. Taichi harus merahasiakan hal tersebut dari teman-temannya dan teman-temannya akan diubah menjadi anak kecil dari mulai jam 12 sampai pada jam 17.

Sequence ini berakhir dengan persoalan Iori dengan ibunya terhadap mantan bapak tirinya yang kembali ke rumahnya dan masuk kembali ke dalam kehidupan mereka berdua. Percobaan jikan taikou ini ternyata diluar sepengetahuan Fuusen Kazura 1, sehingga ketika kejadian ini diketahui oleh Fuusen Kazura, fenomena jikan taikou ini diakhiri secara sepihak dan Fuusen Kazura menawarkan kesempatan kepada Iori untuk memperbaiki kehidupannya di masa lalu sebagai permintaan maafnya atas percobaan jikan taikou yang terlaksanakan tanpa sepengetahuannya. Namun tawaran tersebut ditolak oleh Iori karena berkat kejadian-kejadian yang dialaminya, ia menyadari bahwa ia tidak akan menjadi apa yang ia sekarang ini kalau bukan karena masa lalunya.

Analisis Kokoro Connect

Bersambung Minggu Depan ya (^-^)/




Wednesday, September 12, 2012

Sedikit lebih lanjut lagi tentang AFA 2012: Perpanjangan dunia maya dalam interaksi dunia nyata

Oleh: Rizki Musthafa A 

Anime Festival Asia Indonesia 2012 (Konten Acara)
Awal September 2012 ini, masyarakat penggemar anime di Indonesia pada akhirnya menyambut sebuah perhelatan berskala Internasional, yaitu Anime Festival Asia. Acara ini sendiri diadakan kali ketiga dalam tahun 2012 (Singapura, Malaysia, dan Indonesia). Anime Festival Asia telah diadakan sejak tahun 2008, merupakan acara tahunan yang mengusung tema animasi Jepang, beserta budaya populer Jepang lain seperti cosplay, anisong, doujinshi ataupun card game. Hanya saja yang terlihat jelas di AFA Indonesia hari pertama bukanlah pagelaran animasi dan hal-hal yang langsung berkaitan dengan produksi animasi, studio, sekolah atau pengisi suara, melainkan parade sekumpulan pameran produk-produk hilir yang mengelilingi dunia animasi Jepang, termasuk di dalamnya cosplay, doujinshi, J-pop, anime song, maid cafe, itasha dsb. Di antara cosplayer yang ada bahkan terdapat beberapa yang membawakan tema kostum tokusatsu/ live action hero. Selain cosplayer tokusatsu yang sifatnya terkesan ‘hanya meramaikan’, ada pula sebuah display yang memamerkan modifikasi motor ‘battlehopper’, motor dari serial tokusatsu "Kamenrider Black". Terkenal di Indonesia pada era 90-an dengan judul “Ksatria Baja Hitam”, kehadiran mereka secara tidak langsung melahirkan asumsi kalau budaya populer Jepang, apapun itu sepertinya tidak terlalu dipermasalahkan segmentasinya oleh komunitas penggemarnya. 

Minat masyarakat umum yang menggemari anime dan budaya populer Jepang dalam menghadiri acara ini ternyata cukup besar. Secara kasat mata, minat tersebut tercermin dalam antrian tiket hari pertama; padat memanjang di kawasan parkir gedung utama JI Expo, Pekan Raya Kemayoran, Jakarta. Partisipasi masyarakat yang cukup besar ini sebetulnya memang didukung oleh sistem advanced ticketing yang disediakan oleh sebuah convinience store ternama di Indonesia. 4000 tiket advanced habis terjual, dan tiket yang dijual pada pada hari perhelatan pun banyak diserbu pengunjung. Hanya saja, terdapat kekecewaan bagi pembeli advance ticketing ini karena mereka harus antri lebih lama dibandingkan para pembeli tiket di hari acara. Secara umum, perhelatan serupa seperti Anime Festival Asia, festival-festival kebudayaan Jepang yang sering diadakan di kota-kota besar Indonesia membuka ruang gerak dan tumbuh bagi berbagai jenis komunitas pecinta dunia budaya populer (dalam hal ini Budaya Populer Jepang) untuk melakukan gathering atau reuni. AFA ID pun tak terkecuali, beberapa pengunjung terlihat menampakkan ekspresi kegembiraan seperti layaknya orang-orang yang melakukan reuni keluarga. Acara semacam ini memang mendukung komunitas-komunitas yang ada untuk berekspresi menurut kegemaran mereka masing-masing. Sebagai contoh, dalam acara ini pun digelar sebuah Cosplay exhibition yang diadakan sebagai rangkaian AFA Regional Cosplay Championship 2012.  Sebagai catatan, selama ini di kota-kota Besar di Indonesia seperti halnya Jakarta atau Bandung budaya cosplay memang telah cukup diakui dan banyak dilakukan oleh kaum muda.

Danny Choo tampil dalam action figure dirinya
Mirai Suenaga dalam aplikasi Mirai Clock 3
Pernak-pernik yang dijual di Anime Festival Asia 2012 hari pertama seperti halnya FIGMANIA, Nendoroid, dan macam-macam action figure merupakan salah satu daya tarik yang cukup mencolok ketika pengunjung memasuki hall yang disediakan untuk pameran. Selain itu, terdapat sebuah stand yang menghadirkan berbagai merchandise dari Danny Choo, seorang blogger yang cukup ternama di kalangan pecinta Budaya Jepang karena jasanya menghubungkan antara otaku, dunia media dan pemerintah Jepang. Lebih lanjut mengenai stand Danny Choo, terdapat beberapa hal yang menarik. Hampir seluruh merchandise dikemas dengan karakter bergaya anime original, yaitu karakter Mirai Suenaga. Karakter ini mendominasi berbagai macam benda mulai dari Itasha (Mobil bermotif ilustrasi anime), action figure, aplikasi I-Pad, Dollies, hingga moekana (kartu flash hiragana bertema karakter Mirai Suenaga). Mirai Suenaga sendiri digambarkan sebagai gadis SMU yang berasal dari masa depan, lengkap dengan teman-teman dan suasana masa depan tempatnya tinggal. Pengunjung dapat dengan mudah berfoto di sekitar itasha, atau bermain kartu moekana. Melihat gaya merchandising semacam ini kita seakan diingatkan kepada popularitas beberapa karakter lawas yang juga terkenal seperti Hello Kitty dan Doraemon. Tak jauh dari stand display ini, Danny Choo sendiri pun menimbulkan antrian para penggemar yang menghendaki tanda tangannya di kartu moekana yang telah mereka beli.


Antrian di dengan Moe Moe Kyun Cafe
Sebetulnya lebih banyak lagi stand (karena ragamnya bisa saja disebut 'atraksi') yang menarik seperti Moe-Moe Kyun Maid Cafe dan Atelier Royale Cafe. Kedua kafe bertema maid dan butler ini, diwarnai oleh antrian panjang pada pintu masuknya. Terlihat bahwa antusiasme pengunjung pria dan wanita tak berbeda karena selang-seling dalam antrian tersebut, jumlah pengunjung pria dan wanita pun terlihat sama. Dua orang pengunjung yang saya temui dalam antrian beranggapan bahwa kafe semacam ini cukup menarik justru karena keberadaan pelayan gadis remaja berkostum Maid. Menurut mereka kafe yang dilayani oleh gadis-gadis tersebut menarik karena bersifat moe, namun ada sedikit perbedaan mendasar dalam ketertarikan yang dimiliki kedua pengunjung ini. Salah satu dari mereka menyatakan bahwa kostum mereka menarik dan ia pun menunjuk potret salah seorang maid yang terpampang di depan maid kafe ini. Pengunjung kedua menyatakan belum dapat memutuskan sebelum melihat dan merasakan langsung interaksi dengan maid-maid tersebut. Ternyata, pengertian kata moe bagi kedua pengunjung ini membuktikan bahwa belum ada kesamaan atau ketegasan mengenai apakah arti moe sebetulnya. Selain itu mereka beranggapan kalau penyaluran kreativitas seperti maid cafe akan cukup baik jika diterapkan oleh bidang usaha sejenis.

Vivian Wijaya (Dr.Vee)
Stand lain yang mendapatkan perhatian tim kami dari JAYAPOKEN adalah stand mangaka Dr.Vee (Vivian Wijaya). Merupakan salah satu stand yang mengusung tema manga, Dr.Vee yang memulai debutnya sejak 2006 mengomentari bahwa di antara 3 perhelatan yang ia alami selama debutnya sejak bersolo karir AFA adalah acara yang terbesar. Ia juga mengekspresikan keterkejutannya terhadap pangsa pasar manga di Indonesia yang kian tumbuh besar. Feedback yang ia dapatkan dari pembaca manganya adalah para penggemar yang kemudian berusaha hunting karya-karyanya dan juga beriteraksi langsung dengan mereka lewat jejaring sosial Facebook. Sembari bercerita tentang usahanya yaitu membuka sekolah manga "Dr.Vee Mangaka Club", Dr. Vee secara tersirat tersenyum memperlihatkan kegembiraannya berpartisipasi dalam acara ini.

Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan bersifat teknis yang ada dalam AFA ID 2012, terdapat sebuah benang merah yang kiranya bisa ditarik. Lebih spesifik pada hari pertama, ketika belum ada pemutaran animasi dan hanya ada hal-hal yang bersifat mendukung dunia animasi itu sendiri. Banyaknya segmentasi yang beragam namun tidak terpisah-pisah, terjadi serentak. Segmentasi tersebut hadir dalam sebuah dunia yang dianggap oleh kebanyakan orang awam terlepas dari dunia nyata. Secara kolektif dipahami dan dilakukan pula oleh para partisipan AFA ID 2012. Sekilas, mereka yang berada di dalam acara ini seakan terbalut kabut ilusi dari karakter 2 dimensi, tema-tema anime, sifat atau karakter yang dibuat-buat, tercermin dalam cosplay, misalnya. Namun jika memperhatikan lebih dalam berbagai hal yang dilakukan di dalam AFA ID 2012 oleh para pengunjung, sebetulnya mereka tidak dapat dikatakan terselubung oleh sebuah kabut khayal yang menghalangi pandangan mereka akan dunia nyata. 

Berfoto sambil mengobrol
Dari sudut pandang para partisipan sebagai pelaku, mereka berkumpul bersama teman-temannya, bekerjasama membuat kostum, bekerjasama memakaikan kostum ke temannya, kembali bertemu dengan kawan lama atau kawan online hanya di acara tersebut, bertemu dengan orang yang dianggap berjasa, rela antri tanpa terlalu berdesak-desakan, karena merasa bahwa orang yang antri bersama mereka ada dalam satu kepahaman. Mereka justru terlihat jelas berusaha menarik segala sesuatu yang bersifat khayal ke dalam dunia nyata dengan mewujudkan karakter 2 dimensi menjadi nyata, seperti misalnya cosplay. Action figure, itasha atau motor modifikasi belalang tempur pun masih terasa memiliki unsur-unsur ini, karena keberadaan mereka hanyalah perpindahan dari dunia dwimatra; dua dimensi, ke dunia trimatra; tiga dimensi. Jika 2+1=3, jadilah hal ini dapat dikatakan penjumlahan, atau perpanjangan.
Mirai Suenaga di Itasha
Megurine Luka dan Kaito (Depan), 'bernyanyi' dalam kotak kaca

Jika 'perpanjangan' dimengerti sebagai perpanjangan dunia maya seperti  yang dijelaskan oleh Jean Baudrillard dalam 'Simulacra and Simulation', terkuak hal yang menarik. Baudrillard menjelaskan keberadaan dongeng-dongeng masa kini seperti yang dipamerkan oleh Disneyland, sebagai sampah khayalan masa lalu yang harus didaur-ulang oleh orang-orang di masa kini, di samping proses kejadian beberapa dari mereka yang betulan lahir dari ruang hampa (lihat mickey mouse? lihat juga tetsuwan atom? dari legenda kuno manakah mereka terlahir?). Bagaimanapun mereka ingin melakukan simulasi, peniruan sesuatu yang kasat mata, dunia nyata pasti juga akan terpengaruh olehnya. Pengaruh tak terhidarkan ini ibarat perampok yang ingin merampok bank dengan senjata palsu (niat agar tak ada yang tersakiti), apakah mereka dapat menghindar dari tembakan polisi yang menghadang di luar bank atau bisakah mereka mencegah salah seorang sandera yang meninggal di dalam bank akibat serangan jantung? Cosplayer Samurai juga tak mungkin memaksa pihak keamanan atau penyelenggara jika pedang tajam mainan (atau asli) yang digunakannya tidak diperbolehkan memasuki acara (dianggap berbahaya). Cosplayer GUNDAM pun tak lekang dari kenyataan kepanasan di dalam kostum, karena ia bukanlah GUNDAM sesungguhnya, betapapun meyakinkan senjata dan desain mobile suit yang ia pakai.
Kakek nenek kita yang hidup di tahun 40-an sebagai remaja mungkin sebagian masih demikian takjub melihat betapa anehnya melihat film yang berwarna atau bagaimana kartun dapat dibuat bergerak dan berbicara, sebagian lagi bisa saja merasa biasa, namun mereka kemudian sama-sama menerimanya sebagai sesuatu yang wajar karena mereka berada di tengah dunia nyata (mungkin beberapa tempat di dunia malah tidak sadar kartun adalah hal yang luar biasa karena lebih disibukkan oleh pertahanan diri kala perang). 
Kita sebagai pecinta kebudayaan Jepang populer sendiri masih dibuat penasaran oleh keajaiban hologram Vocaloid Miku di atas panggung di balik kaca beberapa waktu lalu atau penampilan raksasanya di water stage awal September ini juga, Dunia kita kini telah penuh dengan gabungan dunia maya dan nyata yang bersinergi, dalam sebuah teknologi augmented reality. Peta car navi, yang tadinya cuma terpampang di GPS mulai dikembangkan ke kaca mobil holografik. Manusia dapat membayangkan seperti apa dunia di masa depan setelah nantinya konsep-konsep yang ditawarkan dunia maya sekarang kian mewujud. Mungkin mobil terbang belum diproduksi masal, tapi sejak beberapa abad lalu orang sudah mulai bisa menciptakan sesuatu dari udara kosong (bukti pula kalau kita memang ciptaan terbaik Tuhan), dan hal tersebut mewujud, secara harfiah. 
Dari dunia maya mewujud ke dunia nyata, ini ternyata salah satu kemampuan manusia. Makhluk manapun mesti menerimanya. 

Tuesday, September 11, 2012

Tiket Madoka Magica di Kyoto International Manga Anime Fair 2012!

Ini adalah tiket ber-ilustrasi Madoka Magica yang dijual khusus setelah dipublikasikan lewat twitter.

Wednesday, September 5, 2012

AFAID 2012... Anime or just for fun...?


Panas terik yang suhunya mencapai 34˚C, derap kaki ‘Anime Freakers’ tidak merubah pikiran untuk berdiam di rumah atau jalan-jalan di Mall untuk mencari kesejukan. AFAID atau ANIME FESTIVAL ASIA INDONESIA 2012 yang diselenggarakan di Jakarta International Expo, Kemayoran; telah menjadi ‘magnet’ para penggila animasi Jepang. Pada antrian “Ticket Redemption” terlihat antrian yang cukup panjang untuk menukar tiket masuk. Namun sayang sekali, panitia penyelenggara terlihat kurang mempersiapkan antusias para pengunjung. Hal yang cukup dikagumi adalah ribuan para pengunjung ini cukup tertib dalam antriannya, mungkin mereka sudah sadar jika antri dengan tertib bisa  membantu jalannya keamanan dalam membeli atau menukarkan tiket. Bayangkan jika pengunjungnya tidak tertib seperti acara pertandingan bola yang pernah ada di Jakarta pada waktu lalu.

“Gue kecewa banget sama Raja Karcis-nya, masa yang VIP lo udah mesen jauh-jauh hari, malah kena antre empat jam. Sedangkan yang beli on the spot malah gampang banget," keluh Rhesa yang sudah datang sejak pukul 9 pagi.” (Editor : Aditia Maruli)

(http://www.antaranews.com/berita/330715/ribuan-pengunjung-padati-anime-festival-asia-indonesia-2012. Diunduh tanggal 2 September 2012, jam 22:14WIB)







Setidaknya panitia menyiapkan tiang pembatas baris agar bisa antri dengan rapih dan tertib tanpa mengganggu jalannya mobil untuk parkir.




AFAID 2012 menghadirkan artis J-Pop yang membawakan lagu-lagu anime, seperti 7!!, bless4, Ichirou Mizuki, Lisa, angela, Kotoko, SeaA, dan Stereopony yang tampil di konser Super Anisong Stage. Acara ini juga mengundang bintang tamu dari dunia otaku dan cosplay, seperti Danny Choo, Vivian Wijaya, Kaname, Akatsuki Tsukasa, dan Richfield.
              Pengunjung yang datang mengenakan berbagai macam kostum, ada yang harajuku-style, akiba-style, cosplay, casual, dan ada juga yang datang dari luar Indonesia. Fenomena yang bisa ditangkap dengan indera penglihatan ini adalah setiap kali ada acara kebudayaan Jepang, baik itu Ennichisai, Jak-Japan Matsuri, Gelar Jepang UI, dan sebagainya; pasti ada Costume Player. Apakah setiap acara kebudayaan Jepang selalu identik dengan costume play?

Gambar : beberapa pelaku cosplay dan penggemarnya.

Mungkin ada beberapa orang kecewa dengan acara ini, karena judul acaranya ANIME FESTIVAL ASIA INDONESIA. Anime yang berarti animasi Jepang, namun stand Anime tidak ditemukan pada exhibition hall. Stand yang ada yakni stand kartun, anime dan game merchandise, makanan, provider telepon selular, provider televisi parabola, arcade gaming, penjualan CD – DVD original, dan card game tournament.
Hal yang lebih mengejutkan lagi, di AFAID ini ada メイド・カフェ / Maid Cafe” danバトラー・カフェ / Butler Cafe”. Maid Cafe dengan nama “Moe Moe Kyun” dan Butler Cafe dengan nama “Atelier Royale”. Umumnya mereka yang datang ke dua cafe ini sudah tahu melalui manga, anime, maupun berita; dan pastinya mereka ingin tahu rasanya seperti apa. Beberapa pengunjung tidak memahami arti dari “Moe”, “Maid Cafe”, “Butler Cafe”; dan yang sangat disayangkan adalah kenapa cafe ini berada di dalam exhibition. Berbagai macam bunyi musik exhibition dan suara para pengunjung mungkin mengganggu ‘mood’ tamu yang sedang ada di dalam cafe. Ada beberapa kekurangan juga, para ‘maid’ dan ‘butler’ ini tidak menyambut langsung dari pintu masuk, tapi yang ada laki-laki dengan HT yang kelihatannya seperti ‘bodyguard cafe’.
Makanan yang dapat dipesan di kafe tersebut, yaitu omurice (omelet rice), curry rice, strawberry short cake, chocolate mousse cake dan teh dalam kemasan pet botol. Beberapa orang juga ada yang ‘shock’ melihat harga tersebut, tapi ada juga yang terkagum-kagum setelah makan dan minum sambil yel-yel “元気パワーアップ / Genki Power-Up!”
              Foto yang dipajang di depan “Atelier Royale” butler cafe, sekilas terlihat artis atau selebriti Korea. Mungkin ada baiknya penyelenggara butler cafe ini bisa membedakan model gaya Jepang dengan Korea. Apakah beberapa orang Indonesia ada yang sulit untuk membedakan mana yang gaya Korea dan Jepang? Atau bahkan tidak peduli terhadap hal ini?





              Acara AFAID 2012 telah menjadi barometer animo budaya Jepang di Jakarta. Sempat beberapa waktu serangan budaya Korea mendominasi dunia entertainment dan produk elektronik di Indonesia. Jumlah ribuan pengunjung yang datang ke acara ini mereka antusias dengan budaya Jepang. Komentar dari beberapa blog, mereka tidak sabar menunggu AFAID 2013 dan berharap acara ini diadakan lebih besar dari sebelumnya.


アディティア・ライ氏は「日本のポップカルチャーはまだ死んでいない。自信を持って、インドネシアのファンの期待に応えてほしい」と語った。 (田村慎也-じゃかるた新聞)

http://www.jakartashimbun.com/free/detail/529.html. Diunduh tanggal 2 September 2012, jam 22:14WIB



              Terlihat ramai pada stand penjual mainan, beberapa pengunjung berkumpul di satu sudut dan melihat kotak pura-moderu (plastic model). Ternyata plastic model yang banyak digemari yakni Mobile Suit Gundam series dan datang ke counter untuk membelinya. Di Jepang, penjualan plastic model Mobile Suit Gundam series masih pada tingkat tertinggi. Setiap ada model baru pun, para penggemar Gundam akan menunggu di depan toko yang dituju sehari atau 2 hari sebelum peluncuran. Otaku Gundam juga pastinya tidak diragukan lagi ada di barisan terdepan dan terkadang mereka cosplay karakter Amuro Ray (アムロ・レイ) dan Char Aznable (シャア・アズナブル).




              Kembali dengan harapan yang akan diselenggarakan tahun depan, semoga ada stand yang menjual DVD anime original (baru atau bekas), CD anime soundtrack, workshop software animasi, forum anime, promo sekolah animasi di Jepang, dan cafe yang bertema dari anime, seperti Gundam Cafe.
 










Gambar : Suasana Gundam Cafe. Makanan dan minuman di Gundam Cafe – Akiba, Tokyo. (http://g-cafe.jp/. Diunduh tanggal 2 September 2012, jam 22:20WIB)


(Roberto Masami P. - JaYaPoKen)